Jilbab

Sebagaimana kewajiban seorang muslimah untuk selalu menjaga aurat yang dimilikinya, saya pun belajar dari waktu ke waktu. Dulu yang belum mengenakan jilbab, dan perlahan-lahan mulai mengenakannya. Belajar untuk menutupi aurat ini seperti sedang berperang di medan laga. Berperang melawan sebuah sistem dimana saya dibesarkan tanpa asupan ilmu agama yang mumpuni lalu kemudian berjuang untuk bermetamorfosis menjadi seorang muslimah.


Jalan ini memang terjal. Tak selalu mulus seperti yang dibayangkan sebelumnya. Masih teringat jelas ketika pertama kali saya memiliki sebuah jilbab. Yah…jilbab pertama. Jilbab yang untuk pertama kalinya saya miliki. Jilbab warna coklat itu sekarang tak lagi saya kenakan. Mungkin karena sayang lalu sengaja saya museumkan atau karena memang sudah tak layak pakai. Jilbab ini jilbab biasa, tidak mahal, tidak ada yang istimewa bila dibandingkan jilbab-jilbab lain. Namun jilbab ini memiliki kenangan khusus di dalam memori. Jilbab itu saya beli dengan uang saya sendiri dan pada saat itu saya belum mengenakan jilbab dan pakaian muslimah. Saya masih berpenampilan remaja seperti pada umumnya. Celana jeans, kaos, jaket dan rambut yang diikat satu di belakang. Penampilan yang sangat umum pada saat itu.

Kembali ke jilbab pertama, jilbab ini saya beli di sebuah toko khusus busana muslimah di Solo, kota kelahiran saya. Karena pada saat itu belum banyak dijumpai toko-toko baju khusus muslimah, maka hanya toko dengan harga yang relatif mahal yang saya ketahui. Berbekal tabungan seadanya, saya membeli jilbab coklat itu. Dan ketika pertama kali memiliki jilbab, saya bingung. Ini jilbab kapan akan saya kenakan? dan dimana? notabene saat itu saya belum mengenakan jilbab. Alhasil jilbab pertama itu nanggur, hingga pada suatu ketika ada ajakan teman untuk ikut dalam sebuah kajian. Dan berawal dari itulah kali pertama saya untuk mengenakan jilbab. Yah…meski setelah pulang dari kajian penampilan saya berubah lagi kembali seperti semula. Tapi tak apalah, belajar itu memang membutuhkan waktu dan proses.

Hingga pada saat kelas 2 SMA dan mau memasuki pergantian tahun ajaran. Saya pun mulai sering untuk mengikuti kajian-kaijan muslimah. Meski saya merasa sangat aneh karena saya satu-satunya orang yang belum berpenampilan muslimah (baca:belum pakai jilbab) . Tekad utnuk mencari ilmu agama membuat diri ini menepis rasa malu. Lebih baik menganggung malu daripada menanggung kebodohan seumur hidup.

Seiring berjalannya waktu, tekad untuk bermetamorfosis itu semakin kuat. Hingga pada akhirnya saya mengutarakan niat saya untuk mengenakan jilbab saya utarakan kepada orang tua. Nervous, takut, canggung, bingung itulah yang saya alami. Maklum, keluarga besar saya belum ada yang mengenakan jilbab. Kalau toh mengenakan pun hanya pada saat-saat tertentu seperti pengajian. Selebihnya tidak. Oleh karena itu, rasa takut dan malu selalu memenuhi hati dan pikiran ini.

Tapi karena keteguhan niat untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslimah yakni menutup aurat, lantas saya memberanikan diri untuk mengungkapkan niat saya untuk mengenakan jilbab, bukan hanya pada saat ikut kajian tapi dalam kehidupan sehari-hari. Dan Alhamdulillah…Alloh selalu memberikan jalan dan kemudahan bagi hambaNya yang berjuang di jalanNya. Orang tua saya merestui dan mendukung niat ini, maka berawal dari itulah saya mulai mengganti semua pakaian-pakaian jahiliyah dan menggantinya dengan pakaian muslimah.

Dan sekarang, Insya Alloh usaha untuk selalu menutup aurat ini semoga agar selalu terjaga. Semoga ikhtiar ini selalu mendapat jalan dari Alloh…(amin) 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s